Agama Substansi Kebudayaan Menjaga Ekosistem -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Agama Substansi Kebudayaan Menjaga Ekosistem

Tuesday, March 30, 2021


Foto Ist

Oleh : Dameria Manik

Pendahuluan

Tuhan Allah menciptakan langit dan bumii beserta isinya. Dan kepada manusia diberikan kuasa untuk menjaga dan memelihara semua ciptaan Tuhan tersebut, karena semua ciptaan Tuhan baik alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan merupakan satu kesatuan yang saling membutuhkan. Karena manusia tidak dapat hidup tanpa alam. Demikian juga binatang-binatang yang hidup dilaut tidak dapat hidup tanpa air, demikian hewan mamabiak tidak akan bias hidup tanpa adanya tumbuhan hijau. Tumbuhan juga tidak dapat hidup tanpa air dan hewan. Maka seluruh ciptaan Tuhan memiliki hubungan erat. Sehingga agama memberdayakan kebudayaan manusia untuk memelihara dan menjaga ekosistem, agar terjadi kelangsungan hidup sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan.


Pembahasan

Alasan Teologis Ekosistem Perlu DipeliharaEkosistem adalah hal yang penting untuk diselamatkan karena ekosistem bukan hanya objek untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ekosistem justru menopang kelangsungan hidup manusia. Ekosistem seharusnya menjadi objek kasih manusia sebagai wujud pemenuhan panggilan Allah untuk berpartisipasi dalam relasi dengan Allah.


Dalam Yohanes 1 merujuk pada Tuhan Yesus sendiri. Alam mengandung hikmat dan kasih sang Pencipta. Merusak alam sama dengan menyakiti sang Pencipta. Dalam Kolose 1:15-16 dituliskan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, dimana Kristus seperti rahim dari semua ciptaan dimana di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kristus terhubung langsung dengan ciptaan. Merusak alam berarti menyakiti gambar Allah dalam diri Yesus.


Manusia diundang untuk menjadi partner Allah untuk memelihara alam ciptaan menjadi tempat yang teratur bukan menjadi tempat yang kacau. Manusia diberi hak untuk berkuasa atas alam dalam konteks moralitas, keadilan, dan belas kasihan. Bartholomeus menuliskan, “We have been given great power and authority by God, but only to be used on God’s behalf , not for our own ends and ambitions.” Manusia dipanggil untuk berkuasa dengan hati sebagai penatalayan (stewardship) dari alam ciptaan.


Dalam kejadian 1 kata berkuasalah atas ciptaan ditulis setelah ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah untuk menjadi representasi Allah. Ketika manusia berkuasa atas ciptaan itu artinya manusia berkuasa atas kepentingan Allah bukan berdasarkan keinginan manusia sendiri. 


Manusia sebagai representasi Allah memperlakukan alam ciptaan seperti Allah memperlakukan ciptaan. Tentu Allah tidak akan mengeksploitasi dan merusak ciptaan. Demikianlah manusia juga merawat alam ciptaan sehingga tercipta keteraturan di dalam alam ciptaan.


Wenham berpendapat: Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ini dalam hal eksistensinya seharusnya memiliki kualitas pribadi yang (1) rational dan bebas, (2) imajinatif dan transformatif, (3) berani menghadapi realitas secara bertanggung jawab, dan (4) dapat menentukan pilihan ketika bertindak. Kualitas pribadi manusia yang tidak dimiliki ciptaan lain ini seharusnya memampukan manusia untuk berpartisipasi bersama dengan Allah untuk memelihara alam ciptaan. Memelihara artinya mengayomi dan membuat alam ciptaan menjadi tetap teratur.


Pemenuhan tujuan dari kerajaan Allah sesungguhnya bukanlah terpusat pada manusia saja. Tujuan kerajaan Allah adalah ciptaan dalam glorifikasi dari ciptaan.

Dalam Wahyu 21:1 dituliskan mengenai langit dan bumi yang baru. Istilah baru yang digunakan adalah καινός yang artinya baru dalam hal kualitas dan bukan dalam hal waktu.  


Jadi langit dan bumi yang baru bukan berarti kita dibawa pergi dari langit dan bumi yang ada sekarang. Kita justru tetap ada di langit dan bumi seperti sekarang namun dengan tatanan yang baru. Langit dan bumi yang sekarang ada disebut sebagai cicipan dari pengharapan eskatologis. Tatanan yang baru dimana tidak ada lagi air mata, maut, perkabungan, dan dukacita. Allah dalam tatanan yang baru telah mengadakan renovasi etika dan bukannya perubahan radikal bentuk (elemen fisik) dari langit dan bumi. Manusia yang telah ditebus dari dosa oleh Tuhan Yesus seharusnya memiliki kemampuan untuk bertindak sebagai pribadi yang telah mendapat pembaharuan etika. Ketika manusia menjadi milik Kristus maka manusia dituntut untuk melakukan pembaharuan budi (Roma 12:2).


Ciptaan bukan hanya manusia, melainkan semua hal yang Allah ciptakan. Itu artinya termasuk ekosistem adalah ciptaan yang bukan hanya menjadi objek dari pemenuhan kebutuhan manusia semata. Di dalam alam yang tidak sempurna karena tercemar oleh efek dosa terdapat pengetahuan tentang Allah yang mendasar. Manusia dituntun menemukan Allah yang sejati melalui alam seperti istilah Thomas Aquinas gunakan, praeambula ad articulos fidei. Apa yang ada di alam membuat manusia mengerti apa yang manusia imani karena apa yang ada di alam komprehensif dengan apa yang ada di Alkitab.


Selain itu, pengetahuan tentang Allah itu tidak diberikan secara langsung. Allah memakai Yesus Kristus sebagai mediasi. Allah juga memakai alam sebagai cicipan dari kemuliaan yang akan datang dan metafora dari Kerajaan Allah. Moltman menuliskan, If we understand the parable as the hidden presence of a qualitatively nem, redeeming future in the everyday experiences of this world, then the parable becomes the promises. Dunia sekarang ini adalah janji dari pengharapan eskatologis. Manusia wajib untuk memelihara alam ciptaan sebagai janji pengharapan eskatologis.


Sallie Mcfague berpendapat bahwa Tuhan Yesus peduli pada kaum yang miskin, tertindas, dan lemah. Tuhan Yesus juga peduli terhadap pemulihan fisik kaum yang lemah. Mcfague berpendapat bahwa kaum yang lemah ini termasuk alam karena alam ada dalam kondisi kritis. Dosa membuat manusia berbuat kejahatan terhadap alam. 


Ketidakseimbangan ekosistem sebenarnya bukan hanya krisis pada alam, tetapi juga krisis pada manusia. Manusia yang adalah ciptaan, bertindak sebagai pencipta. Manusia sebagai ciptaan yang diciptakan lebih tinggi dari ciptaan lainnya diberi mandat untuk berkuasa sebagai pemelihara bukan dengan semena-mena dieksploitasi.


Jika kita sudah menjadi pengikut Kristus seharusnya kita pun meneladani Yesus dengan peduli pada kaum yang lemah dimana di dalamnya termasuk alam ciptaan. McFague menuliskan “The cosmic Christ as the shape of God’s body also tells us that God suffers with us in our suffering, that divine love is not only with us in our active work against the destruction of our planet but also in our passive suffering when we and the health of our planet are defeated.”  Kristus yang telah bangkit adalah Kristus yang kosmik yang telah bebas dari tubuh Yesus dari Nazaret. Kristus yang bangkit kini bisa hadir dalam dan dimana saja. Yesus bersama-sama dengan manusia merasakan penderitaan manusia. Yesus yang dekat ini juga mau memulihkan dunia dengan kasih-Nya yang secara aktif bersama manusia melawan perusakan bumi.


Eksposisi Markus 16:15, Ayat ini mengacu pada Matius 28-19-20 yang berisi tentang misi orang percaya yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Uniknya dalam Markus 16:15 dicantumkan penginjilan kepada segala makhluk. Segala makhluk πάσῃ τῇ κτίσει merupakan kata yang sama yang dipakai dalam Roma 1:20, konteksnya seluruh ciptaan. Semua ciptaan berarti termasuk di dalamnya alam. 


Menyampaikan injil τὸ εὐαγγέλιον merupakan penyampaian kabar gembira. Penyampaian kabar gembira atau sukacita kepada alam artinya manusia diminta untuk merawat dan memperlakukan ciptaan lain dengan baik sehingga ciptaan yang lain dapat merasa sukacita. Memperlakukan dengan baik ini ukurannya adalah apa yang Allah lakukan. Manusia sudah mendapat kabar sukacita dari Allah tentang pembebasan dari kutuk dosa dan manusia sudah dilimpahi oleh kasih Allah. Manusia yang telah dimampukan untuk memilih melakukan apa yang Allah senangi, wajib untuk melimpahkan kasih yang daripada Allah ini kepada ciptaan yang lain. Manusia yang telah mengalami renovasi etikal dimampukan untuk berpikir dan berperilaku sama seperti manusia ketika belum jatuh dalam dosa. Manusia sebagai ciptaan yang bebas dari dosa yang membuat pusat dari hidupnya adalah diri sendiri kini dipulihkan gambarnya. Manusia yang seturut gambar dan rupa Allah memelihara keteraturan dalam ciptaan.


Implikasi Bagi Gereja Gereja dipanggil untuk peduli kepada ekosistem sebagai bentuk partisipasi dan pemenuhan amanat Ilahi. Berikut adalah usulan apa yang gereja bisa lakukan dalam berpartisipasi menjalankan misi Allah untuk memeliharan, menyelamatkan dan memulihkan ekosistem di Indonesia: Penyuluhan secara tegas kepada anggota jemaat dari usia dini sampai lansia bahwa gereja perlu terlibat dalam misi penyelamatan ekosistem yang mengalami krisis.


Pengurangan penggunaan kertas sebagai warta gereja dan dokumen gereja lainnya. Mengingat penggunaan kertas berasal dari pohon. Jika pohon terus ditebang maka akan terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Tekonologi jaman ini juga sudah mendukung adanya penyebarluasan warta melalui web tanpa kertas. Liturgi pundapat dibaca melalui layar LCD proyektor. Berkas-berkas gereja dalam disimpan dan dibuat dalam bentuk softfile dan disimpan di hardisk komputer ataupun aplikasi (Cloud, google drive, dkk) yang bisa diakses oleh orang yang berkepentingan dimana saja dan kapan saja.


Penanaman pohon sebagai program bulan misi dan proyek akhir katekisasi. Pembatasan penggunaan AC (Air Conditioner) secara berlebihan yang dapat menimbulkan efek pemanasan global. Pembatasan kendaraan pribadi mengingat banyak gereja yang memiliki ladang parkir kurang serta dampak emisi kendaraan yang dapat berdampak pada pemanasan global.


Kesimpulan

Ekosistem adalah hal yang penting untuk diselamatkan karena ekosistem bukan hanya objek untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ekosistem justru menopang kelangsungan hidup manusia. Dalam kejadian 1 kata berkuasalah atas ciptaan ditulis setelah ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah untuk menjadi representasi Allah. Ketika manusia berkuasa atas ciptaan itu artinya manusia berkuasa atas kepentingan Allah bukan berdasarkan keinginan manusia sendiri.


Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ini dalam hal eksistensinya seharusnya memiliki kualitas pribadi yang rational dan bebas, imajinatif dan transformatif, berani menghadapi realitas secara bertanggung jawab, dan dapat menentukan pilihan ketika bertindak. 


Kualitas pribadi manusia yang tidak dimiliki ciptaan lain ini seharusnya memampukan manusia untuk berpartisipasi bersama dengan Allah untuk memelihara alam ciptaan. Memelihara artinya mengayomi dan membuat alam ciptaan menjadi tetap teratur. Selain itu, Gereja juga memiliki peran aktif dalam mengingatkan jemaat agar ikut serta dalam menjaga dan melestarikan ekosistem kita supaya tetap terjaga.(***)


Dameria Manik, mahasiswa program pasca sarjana S2 Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus Medan. Materi ini hasil diskusi bersama Dr. Hery Buha Manalu pada mata kuliah Hubungan Teologia dan Budaya.