Agama Substansi Kebudayaan yang Memanusiakan Manusia Kembali -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Agama Substansi Kebudayaan yang Memanusiakan Manusia Kembali

Tuesday, March 30, 2021

Foto : Ist

Oleh :

Ester Br Ginting

Editor : Hery Buha Manalu

Kopi Times - Menurut KBBI agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sedangkan  kebudayaan menurut J. Macionis adalah cara berfikir, cara bertindak, dan objek material yang bersama-sama membentuk cara hidup manusia. Kebudayaan meliputi apa yang kita pikirkan, bagaimana kita bertindak dan apa yang kita miliki. 


Manusia dan kebudayaan (budaya) memiliki hubungan yang cukup unik. Manusia menciptakan kebudayaan namun setelah budaya itu terbentuk maka kebudayaanlah yang pada akhirnya mengatur dan membentuk manusia. 


Hubungan timbal balik ini jugalah yang pada akhirnya memberikan ketegangan-ketegangan yang tidak terelakan dalam kehidupan manusia. 


Salah satu ketegangan yang ditimbulkan adalah posisi antara agama dan kebudayaan. Apakah agama juga merupakan produk dari ke budayaan atau sebaliknya, kebudayaan adalah hasil dari agama atau bahkan agama adalah budaya itu sendiri? Apakah agama dapat sejalan dengan kebudayaan atau justru menimbulkan pertengakaran dengan kebudayaan?


Agama dan kebudayaan selama ini hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat, baik itu agama Kristen maupun agama lainnya. Agama dan kebudayaan mengatur kehidupan bermasyarakat untuk tujuan yang baik yaitu menjadikan manusia lebih baik dalam bergaul dan berinteraksi setiap hari. 


Agama dan kebudayaan seringkali dijadikan sebagai acuan dalam bertidak di kehidupan sehari-hari. Bayangkan jika kita tidak mengenal agama dan kebudayaan, maka manusia akan dengan bebas melakukan apa yang mereka inginkan dengan tidak ada batasan sama sekali, tidak ada aturan, sehingga kehidupan manusia akan semberaut dan kacau balau. 


Agama Sebagai Substansi Kebudayaan dalam Kaitan yang Memanusiakan Manusia Kembali

Dalam karyanya Richard Niebuhr menjelaskan bahwa hubungan antara Kekristenan dan kebudayaan lebih sering berada pada titik tengkar (Niebuhr, 1951, p. 1). Pada dasarnya, kebudayaan adalah hal yang baik karena merupakan anugerah Allah kepada manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Namun sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, kebudayaan seringkali dipakai untuk menunjukkan perlawanan manusia kepada Allah. 


Oleh sebab itu, kekristenan yang dituntut untuk tetap tetap berada pada kehendak Allah harus berbenturan dengan kondisi dunia yang mulai didominasi oleh kebudayaan yang semakin hari semakin menunjukkan perlawanan kepada kehendak Allah (I Yoh 2:16). 


Meskipun agama dan kebudayaan berdampingan di banyak hal, namun tetap ada hal-hal yang harus di bijaksanai karena saling. Ada beberapa hal dari kebudayaan  yang sudah turun-temurun dari nenek moyang kita dahulu yang bertolak belakang dengan ajaran firman Tuhan. 


Kebudayaan memang sangat penting terutama di kalangan kita orang batak, kebudayaan itu sangat melekat di dalam kehidupan kita sehari-hari,  namun di atas semuanya itu tetaplah firman Tuhan yang menjadi  ajaran agama yang kita percayai harus di atas segalanya.  


Zaman nenek moyang kita dahulu mereka tidak mengenal ajaran Kristus, mereka belum mengenal agama sehingga dalam mencari perlindungan kepada tuhannya, mereka pergi ke gunung-gunung, menyembah batu, pohon, sungau, laut, dan lainnya.tapi kita yang sekarang ini sudah mengerti ajarn yang Yesus Kristus ajarkan kita bisa lebih memilih hal baik  dari kebudayaan yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.


Terlalu rasis dalam beragama sehingga meninggalkan semua unsure-unsur kebudayaan juga tidaklah baik, Karena tidak semua kebudayaan itu tidak sesuai dengan firman Tuhan. 



Agama Sebagai Substansi Kebudayaan Dalam Kaitan untuk Memanusiakan Manusia Kembali, ini artinya jadikan agama menjadi acuan dalam berinteraksi baik dalam perkataan, tingkah laku, dan perbuatan sehari-hari sehingga ajaran-ajaran tersebut dapat membudaya dalam kehidupan orang-orang Kristen. Ini bertujuan untuk memanusiakan manusia kembali. 


Maksudnya adalah zaman sekarang ini manusia hidup sudah sangat bebas, kemajuan zaman dan teknologi membuat manusia bertindak dan berperilaku sudah tidak seperti manusia lagi. 


Pengaruh media pada akhirnya membawa transformasi yang bersifat revolusioner atas dunia kita, yang secara tidak langsung menghasilkan perubahan-perubahan baik dari sisi luar kehidupan kita atau bahkan perubahan pada nilai-nilai dan makna di dalam diri kita.


Dalam hal ini, orang kristen dipanggil untuk tetap mewartakan kesaksian iman di tengah-tengah budaya populer dengan tidak merubah atau terjerembab dalam ideologi dan epistemologi budaya popular yang lebih menekankan tren dan keuntungan baik secara finansial semata atau yang berisfat konsumtif. 


Sebaliknya menjadi tugas umat Kristen untuk menemukan dan mengartikulasikan jalan hikmat melalui pementasan kehidupan. (Vanhoozer, 2002). Iman Kristen harus dapat memberikan interpretasi yang tepat kepada Firman Tuhan dan juga memberikan interpretasi kepada dunia populer. 


Iman kristen tidak perlu anti terhadap budaya.Se-baliknya iman Kristen harus dapat menasirkan budaya tersebut dengan baik dalam terang penafsiran Firman Tuhan yang benar.


Selain itu, kekristenan juga harus dapat memperlihatkan sebuah praksis kehidupan yang mencerminkan inti iman tersebut, karena pola pikir sekarang  yang lebih menekankan pada praktis atas suatu prinsip teologis yang ketat. 


Ayat alkitab yang harus kita ingat untuk tetap berdiri tegak dalamkebenaran adalah Roma 12: 2 “janganlah kamu menjadi serupa dengan manusia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.(***)


Ester Br Ginting, Mahasiswa Program Pasca Sarjana S2 Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus Medan, Materi ini merupakan hasil diskusi bersama Dr Hery Buha Manalu pada Mata Kuliah Hubungan Teologia dengan Kebudayaan.