Agama sebagai Substansi Kebudayaan dalam Semangat Kebhinekaan Indonesia -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Agama sebagai Substansi Kebudayaan dalam Semangat Kebhinekaan Indonesia

Thursday, April 8, 2021

Foto : Ist

Oleh : 

Tri Sujarwadi


Kebinekaan adalah Fakta

Pemahaman berikut ini kiranya cukup diandaikan dan dipahami. Manusia sebagai manusia sungguh unik tak ada duanya. Tak ada dua manusia yang 100% sama persis. Oleh karena itu kita bisa membedakan setiap manusia satu terhadap yang lain. Demikian juga kita bisa mengenali apa dan siapa itu manusia dibanding makhluk lainnya. Bahkan jika ada manusia yang secara fisik tidak lengkap, misalnya ada salah satu anggota tubuh tidak ada (jari, tangan, kaki, mata..) toh kita tetap bisa membedakannya dari makhluk lainnya. 

Pernyataan di atas mau menegaskan bahwa keberagaman adalah keniscayaan keberadaan manusia. Dan keberagaman itu adalah kekayaan yang saling menyempurnakan dan mengungkapkan kekayaan dan kesempurnaan. 


Kebhinekaan adalah Indonesia

Adakah yang khas Indonesia? Mungkin hanya inilah yang khas Indonesia: “…bertumpah darah yang satu, tanah-air Indonesia. …berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. ….menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indoensia” (Sumpah Pemuda). Kalau berbicara soal busana, kuliner, musik, arsitektur, adat-budaya, sistem religius, atau bahasa yang khas atau asli Indonesia kita harus merujuk pada aneka suku yang ada: Batak, Karo, Asmat, Toraja, Jawa, dst. Ada lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 


Sejarah Nusantara dari masa kerajaan sampai berdirinya NKRI memang harus diikat dan disatukan dalam keberagaman. Kerajaan-kerajaan bernuansa agama: Hindu, Budha, Islam yang pernah ada di bumi Nusantara keberadaannya tidak bisa mengesampingkan satu terhadap lainnya. Secara historis jejak itu tampak jelas salah satunya dalam tulisan pujangga Mpu Tantular dalam kakawin kitab Sota Soma abad 14 M. “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa (yang beraneka itu satu tak ada dharma ‘kebaikan-kebenaran’ yang mendua/ambigu). Tulisan Mpu Sotasoma ini dilatar belakangi fakta adanya agama yang berbeda di kerajaan Majapahit: Budha dan Hindu-Siwa.  


Para pendiri bangsa Indonesia meyadari fakta kebhinekaan yang merupakan kekayaan yang saaling melengkapi dan menyempurnakan. Oleh karena itu frasa/kalimat “BHINEKA TUNGGAL IKA” akhirnya tercengkeram kuat di kaki Garuda Panca Sila, Lambang Negara Indonesia. “BHINEKA TUNGGAL IKA “ inilah pengikat pemersatu bangsa yang faktanya memang beragam. 


Agama dan Kebhinekaan Indonesia: 100% beragama 100% Indonesia

Secara legal ada 6 agama yang diakui pemerintah Indonesia, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu (UU No.1/PnPs/1965 dan UU Aminduk No. 23 Th. 2006). Keberadaan agama asli atau aliran kepercayaan memang tidak atau belum mendapatkan legalitas dari pemerintah. Tetapi dapat dikatakan bahwa agama-agama asli Indonesia sangat menjaga keharmonisan dan keselarasan terutama dengan sesama ciptaan. Jarang, atau bahkan tidak pernah ada, “peperangan” antar agama asli atau agama asli dengan alam ciptaan. Dengan kata lain sebenarnya agama asli Indonesia adalah bagian dari kenhinekaan itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah apa sumbangan agama-agama yang secara legal diakui pemerintah bagi kebhinekaan di Indonesia? Lebih spesifik lagi apa sumbangan Katolik bagi kebhinekaan di Indonesia?


Kitab suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan secitra dengan Allah, menurut gambar dan rupa Allah. “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…’ . Maka Allah menciptakan  manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”(Kej 1:26-27). Salah satu maksud keberadaan manusia adalah  supaya masing-masing mencerminkan kemuliaanNya. “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan  dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2Kor 3:18). Demikian juga perbuatan baik yang kita lakukan adalah supaya orang sampai pada kemuliaann Allah. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Mat 5:16). Dari kutipan Kitab suci tersebut jelas bahwa manusia yang sungguh berbeda satu sama lain adalah citra dan gambar yang tanpak dari Allah yang Esa. Masing-masing mencerminkan kemuliaan Dia yang Maha Esa; dari satu sumber, yaitu ALLAH, terpancarlah aneka kekayaan kesempurnan. 


Dalam konteks kebhinekaan beragama, gereja Katolik menegaskan dalam Konsili Vatikan II dalam dokumen “Pernyataan tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama bukan Kristiani” sebagai berikut: “Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni ‘jalan, kebenaran dan hidup’ (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.” (NA.2)


Dengan berpegang pada "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Mat 22:21; Luk 20:25; Mrk 12:17), Mgr. Seogijapranata, SJ., Uskup pribumi pertama dan Pahlawan Nasional Indonesia menyerukan kepada semua umat katolik Indonesia untuk menjadi 100% Katolik 100% Patriot (Indonesia). “100% Katolik, 100% Indonesia” ini merupakan formulasi asli dari Mgr. Soegijapranata yang dinyatakan dalam pidato pembukaan kongres umat Katolik seluruh Indonesia di Semarang, 27 Desember 1954. 


Memaknai menjadi Katolik 100% dan Indonesia 100%, Mgr. Kardinal Ignatius Suharyo menulis tema-tema sehubungan dengan kekatolikan dan keindonesiaan dalam buku “Catholic Way” (Kanisius, 2010). Ada banyak hal bisa dipraktekkan karena lahan untuk berprtisipasi dalam membangun Indonesia juga sangat beragam. Kita bisa meneladan tokoh-tokoh dan pahlawan nasional seperti Mgr. Soegijapranata, IJ Kasimo, Ign Slamet Riyadi, Agustinus Adisutjipto, Yos Soedarso, dll. Ekonomi kerakyatan dan koperasi juga merupakan kekayaan kasanah Indonesia. Karya-karya seni-budaya mesti diupayakan menampilkan dan mengangkat kembali seni budaya daerah, nilai-nilai Pancasila, kebhinekaan, NKRI, konstitusi, serta semangat cinta tanah air/nasionalisme.


Salah satu bentuk penghargaan dan suport terhadap kebhinekaan khususnya dalam kekayaan keberagaman budaya di Indonesia adalah dikembangkannya inkulturasi. Warna kedaerahan dipadukan baik dalam arsitektur (bangunan tempat ibadah inkulturatif), seni (suara/musik, koreografi dalam ibadah), busana (motif adat), dll. Kalau agama-agama legal/resmi yang ada di Indonesia  -yang nota bene adalah agama pendatang, sungguh memberi ruang bagi keberagaman, maka agama-agama akan memperkaya ke-Indonesia-an dan “warna Indonesia” akan memberi hiasan tersendiri. Inkulturasi tidak saling menafikan melainkan semakin membangun jati diri. Kedirian justru semakin jelas ketika ia hadir dalam keberagaman.  


Penutup

Keyakinan bahwa Allah yang maha esa menciptakan dan memancarkan aneka ragam kekayaan yang tak terhitung jumlahnya mestinya mengilhami dan menyemangati para pemeluk agama untuk tidak hanya memberi ruang bagi kebhinekaan tetapi menghargai dan memberi suport bagi “mereka yang berbeda” sebagai kawan seperjalanan dan penyemangat dalam perziarahan menuju kesempurnaan yaitu Allah.


Tri Sujarwadi, Mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Teologia (STT) Paulus Medan, materi ini merupakan hasil diskusi bersama Dr.  Hery Buha Manalu pada Mata Kuliah Hubungan Teologi dan Budaya