Benggol di Penggalian Pertama dan Hal-Hal Mistis -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Benggol di Penggalian Pertama dan Hal-Hal Mistis

Wednesday, August 25, 2021

Foto : Ist


Editor : Hery B Manalu

Oleh : Thomson Hs

Kopi Times - Ada yang mengejutkan menurutku di penggalian hari pertama. Kejutan pertama, misalnya, ditemukannya pecahan genteng pada permukaan speed pertama. Genteng? Apa yang spesial dengan genteng? Begini! Huta Ginjang Dolok di Desa Sinambela termasuk desa tua. Desa ini dibuka oleh Op.Humutur Sinambela.


Desa Sinambela merupakan salah satu dari tujuh desa di Kecamatan Baktiraja. Baktiraja dulunya singkatan dari Bakara, Tipang, dan Janji Raja. Namun karena Janji Raja beralih ke Kabupaten Samosir maka singkatan Baktiraja menjadi Bakara Tipang Haroroan ni Raja.  


Diperkirakan Desa Sinambela menjadi desa terluas kedua setelah Desa Tipang. Di desa Sinambela dominan ditemukan marga Sinambela. Ada tiga cabang marga Sinambela (Raja Pareme, Tuan Nabolas, Bonanionan) dan Dinasti Sisingamangaraja dikenal umum bermarga Sinambela. 


Tim Peneliti Balar Sumut memulai ekskavasi hari ini (24,08.2021) di Desa Sinambela, tepatnya di Hutaginjang Dolok yang letaknya di perbukitan. 


Pemukiman itu dirintis oleh Ompu Humutur Sinambela yang menurut garis silsilah merupakan cucu Sinambela dari garis Raja Pareme. Dari garis silsilah itu juga Ompu Humutur diperkirakan semasa dengan Raja Manghuntal (Sisingamangaraja I). Raja Manghuntal juga adalah cucu Sinambela dari garis Bonanionan. Humutur dan Manghuntal memiliki kesan makna yang mirip dari kedua cucu Sinambela itu.


Op.Humutur adalah anak dari Raja Pareme. Berarti, ia selevel dengan Raja Sisingamangaraja I yang merupakan keturunan dari Bona Ni Onan. Bona Ni Onan adalah adik Raja Pareme. Desa ini baru ditinggalkan di awal 2000. Berarti, desa ini sudah menyimpan banyak kisah. Desa ini juga sudah menyaksikan beberapa sejarah.


Ia saksikan danau yang dulu permukannya masih sampai hingga pinggiran Tobbak Sulu-sulu. Kini, air danau sudah jauh surut dari Tobbak sulu-sulu. Ia saksikan perang Padri yang konon adalah pembalasan seorang urat darah ke pamannya. Ia saksikan orang-orang dari gunung membakar Istana di Desa Lumban Raja. Ia saksikan Sisingamangaraja sudah tiada dari generasi pertama hingga terakhir.


Baik, kita langsung pada poinnya: desa tua ini baru ditinggalkan tahun 2000-an. Menurut saksi hidup, pada saat itu, Rumah Bolon tak lagi menggunakan ijuk sebagai atap. "Dari dulu sudah genteng," ucap seorang tenaga lokal. Saya berpikir, jika genteng sudah ada, maka benih kemajuan sudah cepat merambat ke desa ini.


Pada speed kedua penggalian, kami menemukan tembikar dan serpihan periuk tanah. Ada yang sudah bercorak. Pada speed kedua di titik lain, tepat di bawah Rumah Bolon, kami juga menemukan tulang binatang. Wajar karena bawah rumah panggung dulu juga digunakan sebagai tempat ternak. Tempat ini juga digunakan untuk tempat kegiatan kegiatan produktif lainnya. Seumpamanya, misalnya, kadang, Ibu akan bertenun di sana.


Pada speed ketiga, kami menemukan benggol. Benggol adalah mata uang yang diciptakan Belanda. Mata uang ini sudah sangat tua dan dicetak mulai 1800-an dan berakhir dicetak pada 1945. Koin Benggol berlaku hingga zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1950-an.


Benggol pasti banyak juga beredar. Sebab, koin Benggol dicetak dengan jumlah yang bervariasi setiap tahunnya. Pencetakan paling sedikit terjadi pada 1896, sebanyak 1.120.000 keping. Sementara pencetakan koin terbanyak terjadi pada 1945. Saat itu, koin Benggol dicetak sebanyak 200.000.000 keping.


Laboratorium nanti akan memastikan sejauh mana logam benggol ini sudah larut dalam peradaban di Bakara. Seperti diketahui, Bakara adalah anugerah. Tanahnya subur, batunya kokoh, airnya melimpah. Jika digali, banyak pelajaran yang bisa didapatkan. 


Seyogianya, tujuan dari penelitian bukan mencari batu, tulang, emas, keramik, tembikar, dan semacamnya. Tujuan sejati dari penelitian arkeologis adalah mencari makna-makna untuk kemudian bisa dicangkokkan pada skala makro dalam upaya pemajuan budaya. Karena itu, pembangunan setiap daerah oleh pemerintah semestinya mempertimbangkan output dan outcome dari penelitian.


Sekali lagi, tujuan dari penelitian arkeologis bukan untuk mengangkut dan mencari barang. Kalau itu tujuannya, mending pakai traktor seperti para petambang yang meratakan pegunungan dan melahap hutan sesuka hatinya seakan gunung itu ditimbun oleh moyangnya, seakan hutan itu dirawat oleh leluhurnya.


Matahari mulai tidak kelihatan. Sepertinya sore akan tiba. Kami pun turun. Di kejauhan, danau seperti bernyanyi entah nyanyian apa, danau seperti merintih entah rintihan apa? Mungkinkah danau itu merintih bahwa jika tak diperhatikan, ia akan surut, surut, dan terus semakin surut hingga akhirnya kerontang?


Entahlah. Barangkali kamu akan berkata: danau masih lama untuk surut. Atau, itu hanya mitos bagimu. Kita tak tahu, segalanya dimulai dari mitos. Jika mitos adalah fakta yang dilebihkan, mistis bisa jadi sama artinya dengan kekuatan yang berlebihan. Peletakan batu dengan mengangkutnya dengan seutas benang oleh leluhur adalah mistis. Apakah itu fakta? 


Ya. Itu fakta. Mistis adalah fakta. Setidaknya, fakta tentang kekuatan yang berlebihan. Tetapi, jangan salah, mitos juga tak sekadar fakta yang dilebihkan. Mitos juga adalah fakta yang dikurangi. Kita, misalnya, masih saja percaya bahwa perambahan hutan tak berpengaruh pada permukaan danau. Bukankah itu fakta yang dikurangi dengan tujuan untuk merestui para pembalak hutan berdiri kokoh di Tanah Batak?


Saya tertawa tepat di akhir tulisan ini. Kamu bilang: jangan percaya mitos. Padahal, tujuannya adalah sebatas mengurangi fakta yang pernah terjadi. Oh, iya, saya ini juga orang ilmiah. Tetapi, bagi saya, mitos dan mistis adalah bagian dari ilmiah. Ia hanya belum bisa disederhanakan dengan data kuantitatif atau kualitatif.


Yang pasti, suatu saat, kita akan sampai ke titik itu. Titik itu maksudnya, kita tak melebih lebihkan fakta dan juga tak menguranginya. Sebab, keduanya sama berbahaya. Persis seperti pertanyaan begini ketika kita turun gunung: jumlah kita berkurang atau lebih? Bayangkan jika kurang, berarti ada yang hilang di puncak. Jika bertambah, siapa yang menyusup dari puncak? Sadarilah, keduanya ternyata sama sama seram dan mistis bukan? ***


Thomson Hs, Penulis dan Sutradara, Aktif Menghidupkan kembali Opera Batak, Direktur Artistik PLOt (Pusat Latihan Opera Batak). (Hery Buha Manalu)