PROMOSI 4 PUAK DARI KDT -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

PROMOSI 4 PUAK DARI KDT

Wednesday, December 22, 2021

 

Foto : Ist

Oleh: Thompson Hs

Kopi Times - Ada kesan satu puak memiliki dominasi di KDT (Kawasan Danau Toba). Dominasi itu tampaknya sudah permanen dari perimbangan jumlah kabupaten yang dikaitkan ke puak-puak. Puak Batak Toba berada di 4 kabupaten (Taput, Toba, Humbahas, Samosir). Sementara 2 puak lain identik dengan nama administratif kabupatennya (Karo, Simalungun). 1 Puak seperti Pakpak/Dairi identik dengan Kabupaten Dairi dan pemekarannya, Kabupaten Pakpak Bharat yang tidak secara langsung harus terlibat untuk kawasan pariwisata Danau Toba. 


Dominasi satu puak itu dicoba ditepis dengan citra bahwa ada 4 Puak yang berbeda berada di KDT. Perbedaan itu bisa dianggap subkultur-subkultur dari suatu persamaan yang kadang mulai disangkal untuk tujuan perbedaan itu. Realitas perbedaan itu seperti menyatakan kemandirian yang sudah lama terpisah. Di antara 4 Puak itu kadang digiring kecenderungan perbedaannya. Lalu persamaan itu seakan-akan hanya bagian dominasi satu puak. Antara satu puak dengan puak lain melakukan promosi diri sambil menciptakan nada tersendiri tentang puak lain.


Foto : Ist

Dominasi tidak diinginkan dalam berbagai reaksi secara kultural meskipun realitas administrasi dan populasi sudah menjadi dominan di pinggir-pinggir Danau Toba. Potensi aksi - reaktif terkait 4 Puak tampaknya juga kurang mampu lewat posisi administratif atau representasi kabupaten karena karakter birokrasi hanya sekian persen untuk mengurusi dinamika puaknya di wilayahnya. Konon pula untuk membangkitkan ciri kulturalnya untuk klaim wilayah atau administrasi. Ini seperti dilema besar di tingkat internal, baik di birokrasi maupun di antara pelaku seni budaya yang lebih mengusung identitas puaknya dibandingkan yang lain. Satu dua pelaku tentu saja dapat beradaptasi. Namun sisa-sisanya atau potensinya seperti harus membuat gerakan reaktif kepada segala ciri puak yang dominan. 


Apakah potensi kebersamaan 4 Puak itu tak lagi memungkinkan di tingkat kordinasi 8 kabupaten di KDT atau memang perbedaan itu harus didaur-ulang untuk keberuntungan bersama dari pariwisata Danau Toba?


Memang sulit menyatukan 4 Puak di KDT untuk memperkuat kerjasama ke dalam. Dan mungkin agak berbeda kalau keluar dari KDT. 


Promosi 4 Puak di KDT sudah lama dilakukan. Bahkan untuk 5 Puak yang polanya dalam sebutan Batak. Satu bentuk tarian medley pernah diciptakan melalui pertunjukan Opera Batak. Tarian itu dikenal dengan Tari 5 Puak (Toba, Simalungun, Angkola/Mandailing, Karo, Pakpak/Dairi). Saya masih sempat bertemu dengan salah satu pelatih tarian medley itu untuk beberapa kali sebelum meninggal. Namanya Amulliahu Beru Ginting. Beberapa pelatih lainnya pernah bergabung di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Siantar. Seperti almarhum Zulkaidah Harahap dan E. Boru Silaban. Mereka termasuk murid-murid Master Tilhang Gultom, salah satu perintis Opera Batak yang turut memperkuat gerakan nasionalisme lokal sejak Jong Batak muncul. Bukti resmi Opera Batak sebelum deklarasi Sumpah Pemuda 1928 sudah tertera dalam arsip penerima honor di Grup Opera Batak Sitamiang (Samosir) tahun 1927. Jadi dugaan Opera Batak muncul pada tahun 1920-an tak perlu lagi diragukan. Sehingga ketika direvitalisasi kembali sejak 2002 kembali memberikan kontribusi untuk gerakan seni budaya lainnya di KDT.


Foto : Ist

Tarian 5 Puak bukan satu-satunya kreasi berakar tradisi lewat kehadiran Opera Batak. Termasuk Tari Cawan yang tidak jarang menjadi bagian dari banyak seremonial dan unjuk penampilan berbagai sanggar juga muncul dari Opera Batak. Tarian itu, seperti tarian 5 Puak, bersumber dari tradisi yang dapat ditemukan kemiripan ritualnya dalam puak- puak tertentu. Tarian 5 Puak mencuat kembali setelah PLOt melakukan penampilan di berbagai tempat dan kota. Hingga pola- pola tarian 5 Puak menjadi bagian dari garapan tari hingga ke Jerman sejak 2013. 


Itulah promosi 5 Puak sebelum isu pariwisata di KDT. Bahkan ide dari tarian 5 Puak itu dalam beberapa kesempatan dikembangkan menjadi 8 Puak untuk mencerminkan dan promosi puak-puak utama di Sumatera Utara. Waktu acara Karnaval Danau Toba 2016 dengan kehadiran Presiden Jokowi, modifikasi tarian 5 Puak itu terlihat dimodifikasi pegiat tertentu pariwisata dengan ciri khas kostum dan arasemen musik pengiringnya. 


Foto : Ist

Promosi 4 Puak di KDT baru-baru ini dicoba lewat sendratari "Warna Danau". Promosi ini termasuk aman dari sisi garapan karena menjadi bagian program pendukung untuk DSP (Destinasi Super Prioritas) Danau Toba oleh Bpnb Aceh . Beberapa program ke dalam yang mencitrakan 4  Puak di KDT tampaknya untuk menegaskan peran serta sanggar-sanggar dan pelaku seni yang dikaitkan dengan realitas 4 Puak itu. Sedangkan 8 pemerintah kabupaten asyik dengan program sektoral masing-masing tanpa harus mengaitkan potensi 4 Puak itu untuk pariwisata KDT. Narasi 4 Puak ini pasti masih sulit diterjemahkan untuk urusan dalam.


Jadi 4 Puak memang lebih memiliki prospek ke luar. Sendratari  "Warna Danau" mencoba membuktikan itu meskipun bukan tanpa residu. Residu itu ibarat ampas yang dibangun secara reaktif lewat media sosial dan ungkapan langsung yang ditangkap sejak tahap-tahap awal menuju produksi "Warna Danau". Sampai "Warna Danau" dibawa keliling ke 4 kota semacam residu itu berbau prasangka etnik dan uang. Prasangka etnik ini sesungguhnya sudah biasa, asal tidak dikaitkan dengan jabatan dan kekuasaan. Tapi jabatan dan kekuasaan dapat dipermainkan kalau prasangka etnik itu tetap dipelihara. Hal itu berpotensi di mana-mana. Tinggal bagaimana menyikapinya.


Selain bau prasangka etnik itu residu lain adalah berbau uang. Uang bisa terkait kemana-mana. Termasuk disela-sela "Warna Danau". Seorang pejabat di KDT, entah karena keluguan atau kedunguan, mengira penggarap profesional sudah banyak dapat uang dari "Warna Danau". Itu terlontar  sewaktu pertunjukan awal rangkaian roadshow.


Itu dapat menyedihkan. Apalagi tidak menjadi kenyataan. Promosi 4 Puak lewat "Warna Danau" akhirnya saya kira rawan ke dalam. Berbagai residu masih berkeliaran untuk menghalangi dukungan ke DSP Danau Toba. Tiba-tiba hujan turun semalam. Semua langkah untuk sementara lebih baik dihentikan. (Red/Hery Buha Manalu)