Masyarakat Adat Keturunan Op Panggal Manalu Melaporkan TPL sebagai Pelaku Perusakan -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Masyarakat Adat Keturunan Op Panggal Manalu Melaporkan TPL sebagai Pelaku Perusakan

Friday, September 18, 2020

Foto : Ist


Kopi Times | Siborong-Borong :

Puluhan orang dari keturunan Op. Panggal Manalu bersama dengan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera Utara (BAKUMSU) dan Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) mendatangi Kepolisian Resor Tapanuli Utara pada Kamis (17/9/2020) pukul 10.00 WIB untuk membuat pengaduan terkait perusakan tanaman yang diduga dilakukan oleh pegawai PT. Toba Pulp Lestari (TPL).


Perusakan tanaman yang ditanami oleh masyarakat adat keturunan Op. Panggal diatas tanah adatnya terjadi pada 04 September 2020, diawali ketika keturunan Op. Panggal hendak menuju ke tanah adatnya untuk memupuk tanaman yang sebelumnya sudah ditanami seperti Kopi, Nanas, Pisang dan Jagung. 


Sesampainya masyarakat di tanah adatnya yang terletak di Parladangan Pargotikan, Desa Aekraja, Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, mereka mendapati sekitar 50 orang yang diduga karyawan PT. TPL hendak melakukan penanaman eukaliptus di atas tanah adatnya dan menemukan ratusan tanaman masyarakat seperti kopi, nenas, pisang, telah rusak akibat dicongkel, diinjak dan terpotong.


Masyarakat adat keturunan Op. Panggal sempat melarang dan berdebat dengan puluhan orang tersebut serta berhasil menyuruh mundur mereka yang diduga pegawai PT TPL keluar dari tanah tersebut. 

Maka atas dasar perusakan tanaman tersebut masyarakat mengadukan peristiwa itu ke Kepolisian Resor Tapanuli Utara (Polres Taput) didampingi penasihat hukum dari Bakumsu dan KSPPM. 


Sesampainya di Polres Taput penasihat hukum sempat berdebat dengan petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) disebabkan petugas tersebut menolak untuk melakukan pemeriksaan terhadap pelapor sebelum pihak polres melihat tempat kejadian perkara (TKP).


Atas keterangan tersebut penasihat hukum dari Bakumsu yang diwakili oleh Roy Marsen Simarmata dan Ronal Syafriansah menganggap petugas tersebut terkesan mempersulit.  


Usai berdebat akhirnya petugas SPKT tersebut melakukan pemeriksaan terhadap pelapor. Sembari dilakukan pemeriksaan terhadap pelapor di SPKT Kanit Pidum Polres Taput yaitu Aiptu H. Matondang pergi ke TKP untuk melihat tanaman yang dirusak. 


Roy Marsen Simarmata yang ikut ke TKP membenarkan hal tersebut, beliau mengatakan bahwa ia bersama Kanit Pidum dan beberapa masyarakat pergi ke TKP untuk melihat perusakan yang diduga dilakukan pegawai TPL. Hasil dari TKP, Roy Marsen Simarmata mengatakan bahwa Kanit Pidum, Aiptu H. Matondang telah mengambil beberapa dokumentasi dan membawa beberapa tanaman yang dirusak ke Polres Taput untuk dijadikan barang bukti. 


Masyarakat juga memperlihatkan dan menyerahkan beberapa video perusakan yang terjadi 4 September 2020. Pelapor atas nama Janoal Manalu juga mengatakan bahwa ia bersama masyarakat adat keturunan Op. Panggal akan menuntut pelaku tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. 


Ia juga menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan siapa pun yang ingin merusak tanah warisan leluhurnya. “Kami keturunan Op. Panggal tidak akan pernah mundur selangkah pun untuk mempertahankan tanah adat kami,ini warisan nenek moyang yang harus kami pertahankan” ujarnya.


Ronal syafriansah mengatakan bahwa laporan masyarakat adat Op. Panggal telah diterima oleh Polres Taput sebagaimana tercantum dalam STPL No: STTLP/163/IX/2020/SU/RES TAPUT/ SPKT bertanggal 17 september 2020. 


Ronal Syafriansah mengatakan ia berhadrap kepolisian Taput bisa mengusut laporan ini secara profesional dan proporsional. Begitu juga Kristina Sitanggang perwakilan dari KSPPM yang ikut mendampingi masyarakat di Polres Taput mengatakan pemeriksaan terlapor telah sesuai proses hukum yang ada. 


Pelapor telah menyampaikan keterangan tanpa ancaman dan tekanan sehingga pelapor dapat menerangkan kronologis kejadian secara bebas dan merdeka.


Sementara itu masyarakat adat keturunan Op. Panggal bersama Bakumsu dan KSPPM menegaskan akan tetap mengawal kasus tersebut sampai keadilan dapat ditegakkan dan pelaku perusakan segera ditangkap, karena kedudukan rakyat semua sama dimata hukum, tanpa terkecuali. (Rel/Hery B Manalu)