Sosiologi, Teologi Sosial dan Peran Gereja Ditengah Masyarakatnya dalam Berperilaku -->

Cloud Hosting Indonesia

Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

Sosiologi, Teologi Sosial dan Peran Gereja Ditengah Masyarakatnya dalam Berperilaku

Friday, February 26, 2021

Foto Ilustrasi : Ist

Kopi Times - Yana Murni Gulo, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Paulus (STTP) Medan dalam sebuah bertajuk, Sosiologi : Teologi Sosial dan Gereja menyebutkan gereja selaku institusi sosial bisa mengkondisikan individu-individu anggotanya untuk berperilaku dan bertindak baik dalam ruang lingkup yang kecil kedalam lingkup gereja dan keluar.


Disebutkan tujuan dan manfaat kita mempelajari tentang teologi sosial Gereja yaitu, bagaimana kita akan tahu bagaimana perkembangan dan persekutuan gereja, bagaimana kita harus tahu perkembangan gereja.


Kalau ada masalah/konflik dalam suatu  persekutuan/perkumpulan dapat menyelesaikan dengan komunikasi/tindakan yang baik, setelah kita mempelajari hal ini. Akan selalu ada konflik yang kita temukan kalau ada suatu kumpulan/persekutuan.


Mahasiswa STT Paulus ini lebih lanjut memaparkan, manusia dalam kehidupannnya memiliki realita sosial dan realita pribadi. Keduanya saling terkait dengan begitu rapi sehingga sulit untuk memisahkannya, karena perilaku manusia memiliki ciri individu dan sosial sekaligus. Manusia mahluk sosial, belum lagi ada anggapan bahwa bentuk-bentuk masyarakat, gejala pelapisan sosial, dan pola-pola interaksi yang berbeda adalah “entitas / ciptaan sendiri” (Veerger).Kedua, realita ini penting dan menolong pemahaman kita pada waktu kita membahas peran Gereja dalam perubahan sosial: Tuhan memulai dengan realita pribadi, bagaimana Tuhan mengubah hidup pribadi seseorang lalu orang itu berubah lingkungannya.


Pada akhirnya jelas bahwa Gereja mampu mempengaruhi masyarakat disekitarnya untuk masuk ke dalam Perubahan sosial melalui intensi-intensi. Meskipun ada juga kajian Peter L. Berger yang menyatakan bahwa justru kondisi masyarakat (Perubahan sosial) yang mempengaruhi gereja melalui modernisasi.


Pertanyaannya adalah: “Kalau begitu apakah mungkin menjadikan Gereja sebagai agent perubah sosial masyarakat di tengah arus modernisasi dan sekularisasi yang menggejala di semua aspek kehidupan masyarakat sekarang ini ?” Dari realita itu membawa kita kepada kesadaran akan urgensi Gereja dan orang percaya untuk menghadapi dan berperan didalam perubahan sosial masyarakatnya.


Teologi Sosial sangat berguna memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah yang terjadi mengenai kehidupan bermasyarakat contohnya di Indonesia dibahas mengenai bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara berbagai suku bangsa atau antara golongan terpelajar dengan golongan agama. Dengan mengetahui memahami perihal kondisi apa yang dapat menimbulkan serta mempengaruhi bentuk interaksi sosial tertentu. Maka pengetahuan kita dapat disambungkan pada usaha bersama yang dinamakan pembinaan bangsa dan masyarakat.


Menurutnya gereja dalam hal ini masuk dalam domain agama dalam kaitannya dengan realitas dan kekuatan sosial, termasuk didalam pandangan Durkheim sebagai kekuatan yang mengikat manusia, artinya gereja selaku institusi sosial bisa mengkondisikan individu-individu anggotanya untuk berperilaku dan bertindak baik dalam ruang lingkup yang kecil kedalam lingkup gereja atupun juga pada akhirnya akan keluar ke ruang lingkup masyarakat.


Peran gereja didalam perubahan sosial masyarakat sekitarnya yaitu topik besar yang sudah lama digumulkan. Kajian teorinya adalah bagaimana pola hubungan (interaksi) antara individu dengan masyarakat, individu mempengaruhi masyarakat atau masyarakat mengkondisikan individu. 


Baik kajian Durkheim dengan teori fakta sosial maupuan Weber dengan teori rasional-etikanya, atau Giddens dengan internalisasi, semua mencoba menggagas bagaimana sebenarnya rasionalisasi dan seorang aktor berperan di dalam perubahan sosial lingkungan masyarakatnya.


Hal ini barulah kajian sosiologis, belum lagi kajian etis dan teologis dari bagaimana peran gereja ditengah masyarakatnya, masih terdapat jalan panjang yang harus dilalui. 


Bagaimana keputusan perubahan yang diambil dan langkah-langkah untuk mengatasi masalah jemaat sampai kepada berdampak kepada masyarakat sekitarnya adalah sebuah pengalaman yang berharga untuk dikaji.(Red/Hery B Manalu)