spot_img
BerandaBudayaBona Taon dan Keberanian Sosial, Tradisi yang Menolak Dibungkam Zaman

Bona Taon dan Keberanian Sosial, Tradisi yang Menolak Dibungkam Zaman

Kopi Times – Dari sudut pandang sosiologi, Bona Taon bukan sekadar peristiwa budaya, melainkan arena sosial, tempat nilai, kekuasaan, dan kepentingan saling bernegosiasi. Ia adalah ruang di mana identitas Batak diproduksi dan direproduksi. Karena itu, Bona Taon seharusnya tidak steril dari konteks sosial.

Tradisi yang hidup selalu memikul beban zamannya. Jika tidak, ia akan jatuh menjadi folklor, indah dilihat, tetapi tak lagi bekerja. Hari ini, beban itu jelas, Batak, Bona pasogit kian sepi. Migrasi besar-besaran ke kota, dipicu oleh ketimpangan ekonomi dan minimnya lapangan kerja, membuat kampung kehilangan generasi produktif. Rumah adat terawat, tetapi kosong. Sawah masih ada, tetapi tak lagi digarap.

Dalam logika sosiologis, ini bukan sekadar pilihan individu, melainkan gejala struktural. Namun ironisnya, Bona Taon sering dirayakan meriah di perantauan tanpa refleksi serius tentang mengapa kampung ditinggalkan.

Lebih jauh, relasi orang Batak dengan tanah mengalami pergeseran makna. Tanah yang dahulu dipahami sebagai ruang hidup kolektif, sumber identitas dan keberlanjutan, kini direduksi menjadi komoditas. Alih fungsi lahan, konsesi hutan, dan proyek-proyek ekstraktif berlangsung atas nama pembangunan.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Di sini, Bona Taon diuji, apakah ia hanya akan mengulang doa syukur, atau berani menyuarakan kegelisahan sosial atas tanah yang dirampas dan hutan yang menyusut?

Dalam kerangka sosiologi kritis, tradisi bukan entitas netral. Ia bisa menjadi alat legitimasi status quo, atau sebaliknya, medium perlawanan kultural. Bona Taon memiliki potensi yang kedua. Ia mempertemukan elite marga, tokoh adat, gereja, dan warga biasa dalam satu ruang simbolik. Sayangnya, ruang ini sering diisi pidato normatif, bukan analisis sosial.

Padahal, Bona Taon bisa menjadi forum etis untuk membicarakan ketimpangan, kerusakan ekologis, dan arah pembangunan di tanah Batak.

Krisis lain yang tak kalah serius adalah erosi solidaritas sosial. Gotong royong, yang dulu menjadi tulang punggung kehidupan komunal, makin tergerus oleh rasionalitas ekonomi. Relasi sosial dihitung dengan logika untung-rugi. Partisipasi dalam punguan kadang diukur dari iuran, bukan kepedulian.

Dalam bahasa sosiologi, ini adalah pergeseran dari solidaritas mekanik ke solidaritas transaksional. Bona Taon, jika hanya berhenti pada seremoni, justru berisiko menormalisasi pergeseran ini.

Gaya hidup modern juga membentuk relasi baru dengan tradisi. Tortor ditarikan untuk dokumentasi, bukan internalisasi makna. Ulos dikenakan demi estetika, bukan simbol tanggung jawab sosial. Tradisi direkam, diunggah, lalu dilupakan. Di titik ini, Bona Taon rawan menjadi konsumsi visual, bukan praksis sosial. Budaya tampil, tetapi tak lagi mengikat.

Maka, Bona Taon perlu dipulihkan sebagai ruang kritik sosial. Bukan dengan retorika keras, tetapi dengan keberanian sosiologis, menyebut masalah apa adanya. Mengapa anak muda enggan kembali ke kampung? Siapa yang diuntungkan dari rusaknya hutan? Mengapa nilai Dalihan Na Tolu tak lagi efektif meredam konflik dan kesenjangan? Pertanyaan-pertanyaan ini justru memperpanjang umur tradisi, bukan merusaknya.

Bona Taon hari ini berada di persimpangan: antara menjadi panggung nostalgia atau ruang kesadaran. Tradisi yang memilih diam akan dilupakan perlahan. Tradisi yang berani bersuara akan tetap relevan. Bona Taon, jika setia pada roh sosialnya, bukan hanya menandai awal tahun, tetapi juga awal keberanian kolektif untuk menata ulang relasi dengan tanah, kampung, dan sesama. Di situlah ia bekerja sebagai budaya, bukan pajangan, melainkan kekuatan sosial. (Hery Manalu)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini