spot_img
BerandaOpiniKetika Harimau Mengaum Kembali

Ketika Harimau Mengaum Kembali

Oleh : Hery Buha Manalu

Ketika Harimau mengaum kembali di tahun 2026, datang di tengah negeri yang semakin fasih berbicara tentang pembangunan, tetapi gagap menjaga kehidupan. Hutan terus menyusut, sungai tercemar, tanah dirampas, dan krisis ekologis diperlakukan sebagai gangguan kecil yang bisa ditunda. Negara sibuk merapikan narasi, sementara alam dipreteli pelan-pelan. Dalam situasi seperti ini, diam bukan lagi sikap netral. Diam adalah kolaborasi.

Di sinilah harimau mengaum kembali.
Auman ini bukan romantisme perlawanan, bukan pula sisa-sisa kemarahan masa lalu. Ia lahir dari kesadaran pahit bahwa kekuasaan, ketika terlalu lama dibiarkan, akan selalu memilih kepentingannya sendiri. Negara, yang seharusnya menjadi penjaga kepentingan publik dan keberlanjutan hidup, justru kerap tampil sebagai makelar izin, menukar ruang hidup dengan angka-angka pertumbuhan yang rapuh.

Retorika hijau digaungkan di podium, tetapi izin tambang dan konsesi hutan terus diproduksi. Transisi energi dijadikan slogan, sementara desa-desa di sekitar proyek energi justru kehilangan air dan tanah.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background

Negara berbicara tentang masa depan, namun menutup mata pada kehancuran hari ini. Di meja kebijakan, alam tidak punya kursi. Masyarakat adat tidak punya suara. Yang duduk rapi hanyalah modal dan kekuasaan.

Dalam lanskap seperti itu, kritik diperlakukan sebagai ancaman. Mereka yang bersuara dicap menghambat pembangunan, anti-negara, atau tidak realistis. Kekuasaan tidak lagi alergi pada kerusakan, tetapi pada pertanyaan. Pada suara yang berani mengingatkan bahwa pembangunan tanpa batas ekologis adalah resep pasti menuju bencana.

Harimau yang mengaum kembali memahami satu hal, rimba tanpa penjaga akan habis. Auman ini bukan teriakan emosional, melainkan peringatan keras bahwa negara tidak boleh terus-menerus mencuci tangan dari tanggung jawab ekologisnya. Bahwa hukum tidak boleh tunduk pada kepentingan investasi. Dan bahwa kekuasaan, jika tidak diawasi, akan selalu merasa benar.

Tahun 2026 memperlihatkan wajah telanjang paradoks negara, berbicara tentang keberlanjutan sambil mengamankan eksploitas, menjual citra hijau sambil membiarkan luka ekologis menganga. Dalam kebisingan propaganda dan optimisme semu, suara yang jujur terasa mengganggu. Maka ia ditekan, secara halus, sistematis, dan melelahkan.

Esai ini tidak mengajak heroisme murahan. Ia mengajukan tuntutan sederhana namun mendasar, keberanian untuk tidak tunduk. Keberanian untuk mengatakan bahwa negara gagal ketika membiarkan alam dikorbankan atas nama kekuasaan. Keberanian untuk tetap bersuara ketika diam justru memperpanjang kejahatan struktural.

Harimau dewasa tidak mengaum sembarangan. Ia memilih waktu, memilih sasaran, dan siap menanggung risiko. Dalam negeri yang semakin akrab dengan kompromi, sikap seperti ini dianggap berbahaya. Tetapi justru di situlah maknanya. Sebab demokrasi tanpa suara kritis hanyalah panggung kosong, dan negara tanpa nurani ekologis hanyalah mesin perusak yang dilegalkan.

Ketika harimau mengaum kembali, dunia mungkin tidak langsung runtuh. Tetapi kekuasaan akan terusik. Dan itu penting. Sebab negeri ini tidak sedang kekurangan regulasi, melainkan kekurangan keberanian untuk menegakkannya. Tidak kekurangan jargon hijau, melainkan kekurangan kejujuran politik.

Auman ini adalah pengingat terakhir, rimba ini belum sepenuhnya sunyi. Dan selama masih ada suara yang berani menggugat, kekuasaan belum sepenuhnya menang. (Rel/*)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini