spot_img
BerandaBudayaOpen House dan Hati Batak, Ketika Ritual Sosial Kehilangan Sakralitasnya

Open House dan Hati Batak, Ketika Ritual Sosial Kehilangan Sakralitasnya

Kopi Times – Di kota, open house telah menjadi bahasa perayaan yang paling mudah dipahami. Pintu rumah dibuka, tamu datang silih berganti, kopi diseduh cepat, obrolan dipadatkan dalam hitungan menit. Semua berlangsung ringan, efisien, dan nyaris tanpa jeda. Bagi orang Batak di perantauan, praktik ini terasa akrab sekaligus ganjil.

Akrab karena mengingatkan pada kebiasaan berkumpul. Ganjil karena ada sesuatu yang menguap pelan-pelan, rasa sakral yang dulu menyertai setiap perjumpaan. Di sinilah hati Batak diuji, apakah adat masih hidup sebagai kesadaran, atau tinggal kenangan.
Dalam kebudayaan Batak Toba, perjumpaan keluarga bukan peristiwa netral. Ia selalu dipahami sebagai ruang penataan relasi.

Dalihan Na Tolu bekerja sebagai penopang etika, siapa datang, bagaimana menyapa, kapan berbicara. Semua memiliki makna. Ritual memberi jarak agar hormat tumbuh. Kini, di open house urban, jarak itu menyempit. Waktu dipercepat, relasi diringkas, simbol-simbol ditanggalkan. Ritual sosial tetap berlangsung, tetapi kehilangan bingkai sakralnya.

Coffee banner ads with 3d illustratin latte and woodcut style decorations on kraft paper background
Open House dan Hati Batak, Ketika Ritual Sosial Kehilangan Sakralitasnya
Open House dan Hati Batak, Ketika Ritual Sosial Kehilangan Sakralitasnya, Open house urban dan prasmanan memperlihatkan negosiasi Batak dengan zaman/foto:ist

Relasi Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru masih hadir, namun lebih sebagai refleks sosial. Ketika hula-hula datang, tuan rumah spontan berdiri, suara melunak, sikap berubah. Somba Marhula-hula tetap bekerja, tetapi tanpa tutur adat yang menegaskannya. Hormat terasa, namun cepat berlalu, tersapu ritme tamu berikutnya. Sakral menyusut menjadi sopan santun.

Pertemuan dengan dongan tubu berlangsung lebih cair. Canda cepat, cerita singkat, kadang menyentuh wilayah yang dulu dijaga oleh adat. Prinsip Manat Mardongan Tubu kini bergantung sepenuhnya pada kesadaran pribadi. Tidak ada lagi struktur ritual yang menahan lidah. Kedekatan bisa menghangatkan, tetapi juga melukai. Di sini, hati Batak diuji, apakah persaudaraan masih dirawat, atau sekadar dilewati.

Dalam budaya Batak Toba, cara makan tidak pernah netral. Ia selalu memuat etika relasi Dalihan Na Tolu. Karena itu, budaya prasmanan dalam open house layak dibaca secara kritis. Semua berdiri sejajar, melayani diri sendiri, tampak egaliter, tetapi menyisakan persoalan simbolik. Hula-hula kehilangan ruang untuk dihormati, boru kehilangan pengakuan atas kerja dan pengabdian, sementara dongan tubu dilepas tanpa penyangga etika. Prasmanan mereduksi perjamuan menjadi antrean, relasi menjadi logistik. Dalihan Na Tolu tidak menolak modernitas, tetapi menolak lupa. Ketika cara makan menghapus hormat, tanggung jawab, dan kesadaran posisi, adat tidak sedang beradaptasi, ia sedang dikecilkan.

Peran boru adalah yang paling mudah tergerus. Dalam adat yang sakral, mereka terlihat dan diakui. Dalam open house urban, kerja boru sering menyatu dengan logika efisiensi. Membantu dianggap biasa, tak perlu disapa khusus. Elek Marboru berubah dari kewajiban adat menjadi pilihan empatik. Ketika empati menipis, relasi pun ikut menipis.

Dari kacamata sosiologi, open house Batak adalah potret ritual yang terdesakralisasi. Bentuknya ada, maknanya menipis. Namun desakralisasi tidak selalu berarti negatif. Ia bisa menjadi pergeseran, dari sakralitas simbolik ke sakralitas etis. Dalihan Na Tolu tidak lagi ditampilkan, tetapi diharapkan hidup dalam sikap.

Dalam terang iman Kristen, situasi ini terasa akrab. Ketika ritus berkurang, iman diuji dalam praktik sehari-hari. Open house menjadi semacam liturgi tanpa altar, tidak ada doa resmi, tetapi ada tuntutan untuk hadir dengan utuh. Rumah menjadi ruang perjumpaan yang menguji kasih, bukan sekadar keramahan.

Namun ada peringatan yang tak boleh diabaikan. Open house mudah berubah menjadi ajang konsumsi dan pencitraan. Hidangan melimpah, senyum dipaksakan, kamera ponsel lebih aktif daripada percakapan. Dalihan Na Tolu memberi koreksi pelan, tanpa kesadaran etis, ritual hanya menjadi kebiasaan kosong. Seperti tungku tanpa api, ia ada tetapi tidak menghangatkan.

Pada akhirnya, open house urban memperlihatkan negosiasi Batak dengan zaman. Sakral mungkin menyusut, simbol mungkin hilang, tetapi hati Batak belum sepenuhnya padam. Selama masih ada upaya menjaga hormat, kehati-hatian, dan kepedulian, Dalihan Na Tolu tetap hidup, bukan sebagai upacara, melainkan sebagai nurani. Seperti kopi pahit di sore hari, tidak manis, tetapi membuat kita kembali sadar. (Red/Hery Manalu)

Google News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini