Oleh : Hery Buha Manalu
Di banyak ruang kelas Pendidikan Agama Kristen (PAK), kita sering mendapati pelajaran iman yang terputus dari tanah tempat para mahasiswa berpijak. Mereka diajarkan kasih, keadilan, dan iman, tetapi tanpa jembatan menuju budaya yang membentuk kesadaran mereka sejak kecil. Kekosongan itu terlihat jelas pada mahasiswa dari kawasan Danau Toba hingga Nias, mereka mengenali nama ritual adat, tetapi tidak paham nilai spiritualnya, mereka bangga menyebut diri “orang Batak”, namun gagap menjelaskan makna falsafah Dalihan Na Tolu. Di titik itu, kita harus jujur, PAK telah lama mengajar dari langit yang terlalu tinggi.
Karena itulah gagasan PAK berbasis budaya bukan sekadar wacana akademik. Ia adalah panggilan untuk menurunkan teologi ke tanah, ke rumah-rumah masyarakat, ke ritual adat, ke bahasa ibu, dan, ya, bahkan ke tepi Danau Toba yang airnya perlahan kehilangan kejernihannya.
Di tengah derasnya modernisasi, budaya lokal sebenarnya memanggil kita untuk kembali. Ulos bukan sekadar kain seremonial yang dibentangkan saat pesta adat, tetapi simbol berkat dan harapan. Manortor bukan hanya tarian yang dipaksakan kepada generasi muda yang kikuk, melainkan ungkapan relasi manusia dengan komunitas dan pencipta. Namun makna ini pelan-pelan tergerus menjadi formalitas. Ritual tetap berjalan, tetapi ruhnya hilang.

PAK berbasis budaya hadir untuk mengembalikan ruh itu. Ia menempatkan teologi dan budaya dalam ruang dialog: saling menafsir, saling menerangi. Bukan sekadar memasukkan puisi adat di awal kelas, tetapi menggali hikmat budaya sebagai pintu masuk memahami kebenaran iman. Pendekatan ini menegaskan bahwa iman tidak pernah netral budaya, ia selalu menjejak pada kehidupan sehari-hari.
Jika penelitian akademik PAK ingin relevan, maka ia harus berangkat dari realitas konkret masyarakat. Selama ini terlalu banyak tulisan ilmiah yang jauh dari denyut budaya, seakan masyarakat hidup di ruang steril tanpa identitas. Kita lupa bahwa gereja di negeri ini tumbuh di tengah keberagaman tradisi yang kaya. Batak Toba, Pakpak, Karo, Nias, Sumba, Dayak, Papua, semuanya membawa narasi yang bisa memperkaya pemahaman iman.
Penelitian budaya tidak bisa dilakukan dari balik meja perpustakaan. Ia harus turun ke lapangan, duduk di balai adat, mengikuti martonggo raja, mengamati pesta mangalahat horbo, mendengar cerita tetua, atau menyaksikan bagaimana ulos disiapkan dengan sepenuh hati sebagai simbol kasih dalam keluarga. Dalam setiap percakapan, ada nilai yang menunggu diungkap, kebijaksanaan, tanggung jawab sosial, spiritualitas komunal.
Di wilayah Danau Toba, peneliti PAK justru menemukan dimensi lain seperti ekologi. Kehidupan masyarakat di sana terlalu terkait dengan alam untuk bisa dipisahkan. Ketika danau tercemar atau hutan gundul, yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga spiritualitas masyarakat yang terbentuk dari relasi harmonis dengan alam.
PAK berbasis budaya, kalau mau jujur, tidak bisa mengabaikan ekologi. Danau Toba bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah ruang rohani yang membentuk karakter. Pelajar Kristen di kawasan itu tidak bisa diajar tentang “pengelolaan lingkungan” hanya lewat definisi. Mereka harus diajak menatap keruhnya air danau, mendengar keluhan nelayan yang menangkap ikan semakin sedikit, atau melihat kampung adat yang kehilangan pepohonan. Di situlah pendidikan iman menjadi konkret.
Namun untuk menulis semua itu secara akademik, diperlukan keberanian. Keberanian untuk mengakui bahwa selama ini penelitian teologi sering melupakan masyarakat di sekitarnya. Keberanian untuk mengkritisi romantisasi budaya. Keberanian untuk menyaring nilai adat yang selaras dengan Injil dan menolak yang bertentangan.
Penulisan akademik PAK berbasis budaya harus tetap jernih, logis, sistematis, dan didukung data. Tetapi ia juga harus humanis. Tulisan semacam ini tidak bisa dingin. Ia harus membawa suara masyarakat, suara ibu yang menenun ulos sambil berharap anaknya kelak “jadi orang”, suara pendeta yang gelisah melihat anak muda makin menjauhi adat, suara tokoh adat yang resah melihat Danau Toba terancam industri ekstraktif.
Penelitian yang jujur akan selalu menemukan dinamika, ada nilai adat yang indah, ada yang perlu direinterpretasi, ada pula yang harus dikritisi. Misalnya prinsip somba marhula-hula dapat dibaca sebagai penghargaan terhadap otoritas moral, namun juga punya potensi menjadi alat tekanan sosial. Analisis teologis dibutuhkan agar PAK tidak sekadar meneguhkan tradisi, tetapi memurnikannya.
Pada akhirnya, PAK berbasis budaya adalah ajakan untuk kembali membumikan iman. Selama ini kita terlalu sibuk mengutip teolog asing dan lupa bahwa tanah kita menyimpan hikmat yang tidak kalah kaya. Teologi harus berjalan kaki menyusuri kampung, mendengar cerita leluhur, dan belajar dari air danau yang gelisah. Di sana, iman menemukan konteksnya; kultur menemukan pencerahannya.
Jika PAK ingin hidup, ia harus bicara dalam bahasa yang dimengerti masyarakat. Bahasa itu tidak hanya berada di Alkitab, tetapi juga di ulos, dalam Dalihan Na Tolu, di hutan yang mulai gundul, di danau yang mulai keruh.
Dan jika penelitian akademik PAK ingin berarti, ia harus berhenti hanya menjadi deretan catatan kaki, dan berubah menjadi suara yang menyampaikan realitas masyarakat.
Karena pada akhirnya, tujuan PAK bukan hanya menyampaikan doktrin. Tujuannya adalah menjaga agar iman tetap menjejak tanahnya sendiri, hidup di tengah masyarakat, dan memberi arah bagi masa depan yang lebih manusiawi. (Red/*)



