Thompson Hs, Seniman, Direktur Artistik (PLOt) 

Editor : Hery B Manalu
By : Thompson Hs
Kopi-times – Penasaran atas undangan Layar Indie Project (LIP) Medan setelah menonton 3 film di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) semalam, pada peringatan Hari Film Nasional 30 Maret 2019. Ternyata komunitas yang baru berdiri setahun lalu itu masih melakukan pemutaran film di tempat lain, sekaligus untuk penutupan Hari Film Nasional. “Film untuk besok lebih seru,” kata Wari Al Kahfi, stage manager di LIP untuk meyakinkan.

Wesley House sebuah tempat penginapan dibilangan Medan Baru, tepatnya di Jalan Sei Sirah Sikambing Medan. Acara LIP di tempat penginapan itu dilaksanakan di Lantai 3. Karena 4 film akan diputar mulai pukul 14.00, maka ada baiknya lebih segera ke sana, sekaligus untuk mendapatkan tiket masuk. Kapasitas untuk penonton yang disediakan hanya 100 kursi. 
Hujan juga sepertinya akan mengguyur kota Medan pada 31 Maret 2019, sebelum acara dimulai. Nah, itu cukup tepat dari prediksi!
Menaiki tangga ke lantai 3, tim LIP sepertinya sudah bersiap-siap dengan penonton, yang mungkin akan kebanyakan dari jaringan film-maker. Di Medan terdata komunitas pembuat film sebanyak 40-an. Dari jumlah itu estimasi penonton per dua orang dari komunitas sudah pasti memenuhi kursi penonton yang tersedia hanya seratus, ditambah penggemar film Indie, kritikus film, produser, perwakilan lembaga kesenian. Apalagi dengan diadakannya diskusi untuk pemutaran 4 film tersebut, maka penonton akan berlomba untuk dapat tiket lebih awal dan tidak sampai terlambat.
Dua tiket sudah ada di tangan dengan membelinya dekat pintu masuk ruang pemutaran film. Selain tiket seharga Rp. 30.000,- dapat snack dan minuman juga. Wah, dengan menonton film, diskusi, dan dapat snack bagaimana semua pengorganisasian kegiatan itu bisa berlangsung dan survive ke depan?
Pengakuan Robby Saputra, programer LIP dan pembuat film, seperti Komandan Jhon Tor yang ditayangkan di TBSU semalam, LIP tidak mencari keuntungan dengan melakukan acara pemutaran film secara nomaden. Pemutaran film kali ini sudah terhitung yang keenam sejak berdiri secara mandiri dengan topangan para tenaga sukarela. Semua personil penggerak- program di LIP tidak digaji. Mereka adalah orang-orang kreatif di zaman milenial.
Dengan dua tiket, ruang tempat pemutaran bisa dimasuki. Namun sesungguhnya belum layak dimasuki karena semua kru sedang menyelesaikan teknis. Untuk tidak merasa mengganggu, ada baiknya membaca buku Carl Sagan yang berjudul: The Demon-Haunted World (Sains Penerang Kegelapan). Buku itu telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan diterbitkan Gramedia 2018 lalu, selain 
buku “Kosmos” dari pengarang yang sama pada Desember 2016 yang lalu.

Sambil membaca buku, kuping terkadang menangkap situasi dan cara kerja kru yang sedang menyelesaikan teknis. Kadang memperhatikan seorang pemain biola yang akan tampil dalam acara. Pemain biola tersebut bernama Khairunisa Maris. Di salah satu kursi juga duduk seorang stand-up komedian Ilham yang tampaknya diundang untuk tampil setelah pemutaran 4 film atau sebelum diskusi dimulai.
Hujan lokal kedengaran sudah turun. Mungkin di luar Wesley House sudah gerimis. Namun sambil menghitung beberapa menit lagi tak ada niat memeriksa situasi di luar gedung.
Teng!
Oh, ternyata itu hanya tes kode yang dibuat untuk diskusi nanti, terutama untuk mengawali dan mengakhiri waktu penanggap atau reflektor dari penonton. 

Cara itu bagus dan terasa kontekstual, mengingat suatu acara debat di televisi baru-baru ini. Nah, sebelum pemutaran film acara harus dibuka dulu dengan warna penampilan Khairunisa yang mengingatkan kolaborasi bunyi biolanya dengan musik play-back kepada Vanessa Mae. Lalu Robby Saputra kembali memandu sebelum acara benar-benar dibuka salah satu pengganti untuk mewakili pekerja seni dan budaya. 
Perwakilan Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU) atau Dewan Kesenian Medan (DKM) mungkin belum bisa segera tiba di tempat karena terhalang hujan atau sedang mengikuti acara penting di tempat lain.
Nah, menonton film itu penting untuk kesehatan mata. Apalagi ditayangkan atau diproyeksikan ke layar yang lebar. 
Menonton film di layar yang lebar akan membuka pupil mata seperti pemandangan yang menyegarkan penglihatan. Ini satu hal yang bisa direfleksikan dari kehadiran karya film sebagai karya seni. Sains dan teknologi juga sangat mendukung kehadiran karya-karya film. Tinggal si pembuatnya melihat peluang lain dari potensi berbagai cerita yang bertebaran di mana-mana.
Empat film yang diputar di Wesley House pada 31 Maret 2018 akhirnya bisa diputar untuk penonton yang berdatangan kemudian. Keempat film bertemakan anak-anak dengan urutan penayangan dari film “Isyarat” selama 6 menit, film “Sepotong Pisang Goreng” sekitar 13 menit, film “Upo” sekitar 16 menit, dan film “Lumiah” sekitar 10 menit.
Film “Isyarat” Produksi N’Screa Film
Film ini bercerita tentang seorang anak-buta dan disutradarai oleh Ozan. Dalam kesempatan diskusi sutradara berhalangan hadir. Si anak sambil dengan mainannya selalu bertanya tentang suara yang terdengar di luar rumah atau televisi. Ibunya selalu siap menjawab. Ketika ibunya di ruangan lain ada tangan yang menyentuh wajah si anak di ruang televisi. 
Si anak mengira itu ayahnya lalu menyerukan ayah sudah pulang ke arah ibunya. Ibunya tidak melihat apa-apa ketika muncul kembali mendekat si anak. Kemudian di televisi ada suatu berita kecelakaan. Peristiwa itu membuat si ibu menangis tersedu. Itu adalah suaminya dan ayah si anak.
Si anak terbawa bayangan ayahnya sampai ke tempat tidur dan menganggap boneka-bonekanya sebagai teman bermain seperti ayah. Rasa hari si ibu mendorong untuk memeluk si anak dan sebuah bayangan di cermin kelihatan seorang lelaki melengkapi suasana di dalam kamar.
Isyarat apa yang dimaksud dari film pertama yang ditayangkan itu? Ada sesuatu yang bisa dibayangkan sebagai isyarat jika seorang anak-buta selalu melihat suatu bunyi dan mendengar suatu cahaya. Dunia seorang anak buta dapat menyimpan sesuatu yang berbeda dari dunia anak-anak yang tidak buta. Untuk hadir di tengah seorang anak-buta bunyi dan cahaya seperti warna dan kehadiran-lain yang didamba.
Film “Sepotong Pisang Goreng” 
Produksi Oneto Film
Film ini disutradarai oleh Embar Tito Nugroho, seorang penulis sejumlah novel yang sudah lama berobsesi membuat film. Dua orang anak diceritakan sebagai anak yatim-piatu. Si adik ingin mengikuti ayah dan ibu ke surga, meskipun letaknya sangat jauh.

Kelaparan juga dapat menyusul dalam angan-angan. Itulah kemudian yang diperjuangkan si abang dengan mencoba dengan meminta goreng ke seorang Ibu penjualnya. Namun si Ibu penjual goreng juga kadang karena perhitungan uang yang haris diberikan kepada preman setempat, maka si anak peminta-minta itu tidak diladeni. Sehingga si anak mengambil sepotong goreng dan berlari sebelum dikejar sebagai pencuri.

Si anak lebam dipukuli anak-anak lain karena sepotong pisang goreng itu. Ketika sadar dan dengan tubuh yang tidak normal lagi berjalan dia membawa sepotong goreng yang “dicuri” itu melewati rumah seorang anak yang berkecukupan dan biasa dengan rasa iba melemparkan makanan untuk diambil orang lain.
Esok harinya si abang mencari makanan lagi untuk adiknya. Dia pergi ke tempat pembuangan sampah dan mengambil satu bungkusan plastik. Mereka menyantap sisa makanan di dalamnya tanpa sadar keracunan. Ternyata itulah yang membuat mereka akhirnya diketahui seorang tetua sudah meninggal. Situasi paradoks sosial menjadi pesan penting dari film itu di tengah bantuan-bantuan makanan jika terjadi suatu bencana besar atau alam. 
Sedangkan di sekitar kita, bencana-bencana kecil itu relatif selalu tak bisa diatasi, meskipun mereka adalah anak yatim-piatu.

Film “Upo” Produksi Sinedek
Film ini dibuat di Malang juga dengan sutradara M. Iqbal Lubis. Ceritanya terkait dengan pesan agar tidak membuang-buang nasi. Nasi yang dibuang dapat menangis. 
Kadang seorang anak tidak akan mengerti makna di balik pesan itu, meskipun berulang-ulang disampaikan oleh ibunya atau melihat orang lain hanya bisa mendapat makanan sisa dari sebuah tempat sampah. Si anak baru bisa mengerti kalau pesan seperti itu harus diterangkan dalam maknanya yang lebih luas melalui tradisi menanam padi melalui suatu ritus seperti wiwitan. Film ini mencoba menggali kearifan lokal Jawa yang perlu disampaikan kepada anak-anak sekolah.
Film “Lumiah” Produksi Gynee Film
Film terakhir diputar berdasarkan kisah nyata yang disutradarai oleh Yulia Putri Utami.
Berkisah tentang seorang anak-lumpuh dan bisu dengan ibunya yang berpura-pura lumpuh seperti si anak. Si anak diberi dongeng, pelajaran, dibawa mandi ke tengah alam, dan diajari memasak sebagaimana layaknya seorang ibu mengajari putrinya untuk bisa mandiri ke depan. 

Namun suatu malam si anak terbangun dan melihat ibunya tidak ada bersamanya. Kemudian mencoba mencarinya dan mengintip ke luar rumah dari jendela kecil rumah tepasnya. Ternyata ibunya kelihatan berjalan normal. Mungkin pelajaran yang ditunda ibunya terkait fungsi kaki membuat naluri si anak menjadi penting dalam analisis film ini.
Si anak kemudian tak mau makan lagi, meskipun berulang-ulang ingin disuapi ibunya. Kemarahan ibunya kemudian muncul. Namun tidak membuat si anak menjadi takut. Si anak mencoba menjelaskan kepura-puraan ibunya di papan tulis pelajaran dengan menggambar sesuatu seperti sosok manusia. 
Dari situlah si anak menjelaskan ibunya pura-pura lumpuh, padahal tidak. Si anak tidak setuju ibunya berpura-pura untuk dia. Ibunya menjadi terharu dengan perkembangan anaknya yang tidak perlu dilihat selalu melalui keterbatasan fisik.
Keempat film tersebut dibuat dengan proses yang diungkapkan oleh dua sutradara yang hadir dalam diskusi. Keduanya Embar T. Nugroho dan Yulia Putri. Selain mereka hadir sejumlah produser film lokal Medan seperti Angga, pembuat film “Wil, Kenanglah” dan film yang akan ditayangkan pada Mei 2019 nanti berjudul: Ajari Aku Islam. Setahun berdiri dan beroperasinya LIP juga diwarnai dengan peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun sebelum diskusi berlangsung. Selamat ulang tahun bersama Hari Film Nasional!(***)
Thompson Hs, Penulis dan Sutradara, Aktif dan menghidupkan kembali Opera Batak, Direktur Artistik PLOt (Pusat Latihan Opera Batak), Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara (USU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here