Kopi Times – Tahun baru di tanah Batak tidak pernah benar-benar dimulai dari dentuman kembang api. Ia lahir pelan, dari pintu rumah yang diketuk kerabat, dari kursi yang ditarik lebih rapat, dari kopi pahit yang diseduh ulang sambil membuka cerita setahun lalu. Di momen itulah Dalihan Na Tolu kembali mengambil peran, bukan sebagai slogan adat, melainkan sebagai kerangka etika hidup yang menata ulang relasi kekeluargaan orang Batak Toba.
Silaturahmi tahun baru bagi orang Batak bukan sekadar kunjungan sosial. Ia adalah ritual kebudayaan untuk memeriksa ulang keseimbangan hidup. Siapa yang lebih dulu dikunjungi, bagaimana cara menyapa, di mana posisi duduk, semuanya mengikuti logika DalihanDalihan Na Tolu, Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru. Tiga posisi ini bekerja seperti tungku tiga batu. Tidak ada api yang menyala jika satu diabaikan.

Mengunjungi hula-hula di awal tahun adalah tindakan simbolik yang kuat. Prinsip Somba Marhula-hula menemukan konteksnya di sini. Orang Batak datang membawa hormat, bukan tuntutan. Ada permintaan doa, ada ucapan terima kasih, ada pengakuan bahwa hidup setahun ke depan tidak sepenuhnya berada dalam genggaman sendiri. Dalam bahasa iman Kristen, ini adalah teologi anugerah yang diwujudkan secara kultural, hidup diterima, bukan direbut. Tahun baru dimulai dari kerendahan hati, bukan dari daftar ambisi.
Pertemuan dengan dongan tubu, sesama semarga, sering menjadi bagian paling sunyi sekaligus paling jujur dari silaturahmi. Di sinilah cerita kegagalan, konflik lama, atau kesalahpahaman setahun lalu muncul, kadang diselipkan lewat humor tipis. Prinsip Manat Mardongan Tubu diuji di meja kopi.

Apakah luka lama akan dipelihara, atau dilepaskan demi langkah bersama? Dalihan Na Tolu tidak menjanjikan harmoni instan, tetapi menawarkan disiplin etis, menahan diri, menjaga tutur, dan tidak mempermalukan saudara sendiri.
Sementara itu, kehadiran boru selalu membawa denyut kehidupan. Mereka sering datang lebih awal, bekerja lebih banyak, dan pulang paling akhir. Prinsip Elek Marboru mengingatkan bahwa relasi tidak boleh timpang. Boru dirangkul, bukan dimanfaatkan. Dalam terang Injil, sikap ini bersentuhan dengan etika pelayanan, yang bekerja tidak diabaikan, yang melayani tidak dipinggirkan. Tahun baru menjadi ruang untuk memperbaiki relasi kuasa dalam keluarga, sekecil apa pun bentuknya.
Dari sudut pandang sosiologi agama, silaturahmi tahun baru ala Batak adalah ritual pemulihan sosial. Ia merajut kembali relasi yang renggang oleh jarak, migrasi, dan kesibukan modern. Dalihan Na Tolu berfungsi sebagai kontrol moral agar perjumpaan tidak jatuh menjadi formalitas kosong. Dalam dunia yang kian individualistis, tradisi ini menjadi semacam perlawanan kultural, relasi didahulukan, bukan prestasi.
Namun Dalihan Na Tolu tidak berhenti pada urusan keluarga. Ia menyimpan pesan ekologis yang sering luput dibaca. Tungku tiga batu mengajarkan keseimbangan. Jika satu sisi, manusia, sesama, atau alam, ditekan berlebihan, kehidupan akan terganggu. Tahun baru yang dirayakan tanpa refleksi ekologis hanyalah pengulangan kesalahan lama. Silaturahmi seharusnya juga menjadi ruang bertanya, sudahkah hidup kita adil bagi tanah, air, dan hutan (bona pasagit) yang menopang kehidupan Batak sejak lama?
Bagi iman Kristen, tahun baru adalah waktu pembaruan. Dalihan Na Tolu memberi bahasa lokal bagi pertobatan itu, memperbaiki relasi sebelum menyusun resolusi, berdamai sebelum melangkah jauh. Tidak ada khotbah panjang. Cukup dengan duduk bersama, mendengar, dan saling menghormati. Di situlah iman menemukan tubuh sosialnya.
Ketika hari mulai sore dan tamu satu per satu berpamitan, Dalihan Na Tolu tidak ikut pulang. Ia tinggal sebagai komitmen sepanjang tahun, menjaga hormat, merawat kehati-hatian, dan membangun kepedulian. Tahun baru pun tidak sekadar angka yang berganti, melainkan janji lama yang diperbarui. Seperti kopi pahit di awal hari, ia tidak selalu manis, tetapi membuat kita tetap terjaga, agar hidup tidak melenceng dari keseimbangan. (Red/Hery Manalu)



